Sulap Sampah Jadi Aset Ekonomi, Mitra Bukalapak di Garut Terapkan Barter untuk Pulsa dan Kebutuhan Pokok

GARUT— Septiana Ike Puspitasari, atau akrab disapa Ikeu, seorang pengusaha kecil di Kabupaten Garut, menciptakan model bisnis sosial yang unik dan berdampak signifikan bagi lingkungannya.

Berangkat dari keterbatasan modal, Ikeu memanfaatkan ponsel dan aplikasi Mitra Bukalapak untuk berjualan produk digital, namun memodifikasi sistem pembayarannya dengan menerima sampah anorganik sebagai alat tukar.

Berbeda dari warung konvensional, Ikeu menerima pembayaran dalam bentuk sampah seperti botol plastik, kardus, dan kertas dari para tetangganya.

Sampah yang terkumpul kemudian ia pilah, bersihkan, dan jual kepada pengepul. Hasil penjualan ini lantas dikonversi menjadi saldo atau nilai tukar yang dapat digunakan masyarakat untuk membeli pulsa, paket data, token listrik, hingga kebutuhan pokok melalui aplikasi tersebut.

Langkah ini mengubah paradigma di kalangan masyarakat sekitar: sampah yang tadinya dianggap tidak bernilai kini menjadi aset ekonomi yang dapat membantu memenuhi kebutuhan harian di tengah keterbatasan uang tunai.

“Inilah cara kami saling bantu. Kalau tetangga tidak punya uang, mereka bawa barang bekas. Yang penting halal, dan semua bisa terbantu,” ujar Ikeu.

Inovasi sosial ini dibangun atas dasar pembekalan yang diterima Ikeu dari program Mitra Bukalapak. Ia mengikuti pelatihan berkala bernama Sinau Hero untuk memahami dasar-dasar waste management, yang membekalinya dalam mengelola sampah secara sistematis, mulai dari edukasi pemilahan, penilaian jenis, hingga teknik pengolahan awal sebelum dijual.

Sementara itu, pengembangan kapasitas usahanya, termasuk pencatatan keuangan, pelayanan pelanggan, dan strategi bisnis kecil, ia peroleh melalui Komunitas Juwara Mitra Bukalapak.

Kombinasi dua ruang belajar ini menjadi pondasi bagi Ikeu dalam membangun model usaha yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga memberikan dampak lingkungan yang nyata.

“Modal saya adalah kepercayaan. Kalau pelanggan merasa aman dan terbantu, mereka pasti kembali,” kata Ikeu.

Metode barter sampah ini terbukti sangat relevan, terutama di wilayah tempat tinggalnya yang memiliki akses terbatas terhadap warung atau penjual pulsa. Banyak tetangga kini rutin menukarkan botol plastik dengan token listrik atau pulsa.

Dampak positifnya terlihat jelas: volume sampah berkurang, lingkungan menjadi lebih bersih, dan kebutuhan warga tetap terpenuhi meskipun uang tunai terbatas.

Atas ketekunan dan inovasinya, Ikeu berhasil meraih Juara 2 dalam ajang PUJAAN Vol. 4, yang memberikannya tambahan modal usaha sebesar Rp15 juta. Prestasi ini membuktikan bahwa perempuan dari wilayah terbatas tetap dapat berkembang pesat jika diberi akses dan dukungan yang memadai.

“Kami di kampung ingin maju sama-sama. Usaha itu bukan hanya soal untung, tapi soal tumbuh bersama,” ujarnya.

Melalui rumah sederhananya, dan dukungan teknologi Mitra Bukalapak serta pembekalan dari Sinau Hero dan Komunitas Juwara, Septiana Ike Puspitasari telah menjadi katalisator perubahan sosial dan lingkungan, membawa komunitasnya menuju kehidupan yang lebih hijau, inklusif, dan sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *