Bio Farma Perkuat Kolaborasi Daerah Cegah DBD dan Kanker Serviks di Minahasa Utara

Sosialisasi ini merupakantahap awal dari kegiatan pencegahan penularan DBD lebih luas dengan metode 3M Plus serta vaksinasi di Minahasa Utara

BANDUNG— Bio Farma bersama Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara menggelar Sosialisasi Tata Laksana Screening Kanker Serviks dengan Metode HPVDNA dan Pencegahan Penyakit Dengue melalui VaksinasiDBD di Minahasa Utara 2025.

Sosialisasi ini merupakantahap awal dari kegiatan pencegahan penularan DBD lebih luas dengan metode 3M Plus serta vaksinasi di Minahasa Utara.

Dalam kegiatan ini, dibahas mengenai pencegahan penyakit dengue, serta tata laksana deteksi dini pada penyakit kanker serviks yang disampaikan kepada Dinas Kesehatan, serta tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas setempat.Kegiatan ini juga dibuka dengan pemberian vaksinasi dengue secara simbolis kepada 4 orang anak.

Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda, dalam sambutannya mengatakan bahwa DBD merupakan salah satu penyakit yang bersifat musiman dan dapat dicegah.

“DBD adalah penyakit akibat infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegypti betina. Penyakit ini lebih sering terjadi saat musim hujan, karena cuaca lembab dan genangan air merupakan tempat ideal bagi nyamuk pembawa virus dengue untuk berkembang biak.

Penyakit DBD ditandai dengan beberapa gejala sepertisakit kepala, tidak enak badan, mual, dan demam. Namun, demam pada DBD memiliki pola khas yang disebut sebagai siklus pelana kuda.

Kabar baiknya, DBD dapat dicegah. Pencegahan bisa dilakukan dengan memperkuat sistem imun untuk melawan serangan virus dengue, khususnya di Indonesia yang masih sangat rawan demam berdarah. Salah satu caranya adalah melalui pemberian vaksin DBD.” ungkap Joune.

Joune juga menambahkan bahwa di Kabupaten Minahasa Utara memiliki potensi tinggi sebagai sumber penularan virus dengue di Sulawesi Utara.

Kabupaten Minahasa Utara sangat potensial sebagai sumber penularan virus dengue di mana mobilisasi penduduk sangat cepat karena di antara dua kota besar yaitu Manado dan Bitung, dan tingkat kepadatan penduduk dengan dibangunnya lahan perumahan sebagai suatu potensi peningkatan kasus.

Untuk itu, sebagai upaya penanganan dan pengendalian dengue serta HPV di Minahasa Utara, hari ini kita melakukan sosialisasi tata laksana screening kanker serviks dengan metode HPV DNA dan pencegahan penyakit dengue melalui vaksinasi demam berdarah,” tambah Joune.

Kepala Dinas Kesehatan Minahasa Utara, Stella Safitri,menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten telah melakukan berbagai upaya dalam menanggulangi dan menekan penyebaran virus dengue di Minahasa Utara.

Sejalan dengan pemerintah pusat, dan dengan melibatkan lintas sektor dan lintas perangkat daerah, kami telahmenggiatkan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui Gerakan 3M Plus (menguras, menutup dan mengubur/mendaur ulang, plus berbagai tindakan pencegahanlainnya). Kami juga telah mengimplementasikan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J) dan inovasi lokal sepertipenggunaan kelambu Malaria untuk menutup tempatpenampungan air seperti drum dan tandon.” papar Stella.

Stella menambahkan, bahwa salah satu pencegahan yang efektif adalah dengan metode vaksinasi.

“Guna mengendalikan angka kasus dengue di MinahasaUtara, serta melindungi warga dari penyebaran virus dengue, kami melihat perlunya menerapkan pendekatan yang lebihterintegrasi dan inovatif, salah satunya melalui vaksinasi. Untuk itu, Dinas Kesehatan akan mengimplementasikan pilot program vaksinasi dengue kepada 500 anak-anak SD/MI di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Kalawat dan Kecamatan Dimembe. Kedua kecamatan ini dipilih karena merupakan wilayah endemik dengue dengan kasus tertinggi di Minahasa Utara,” pungkas Stella.

Direktur Medis & Hubungan Kelembagaan Bio Farma, Sri Harsi Teteki, menyatakan bahwa kolaborasi lintas sektormerupakan aspek utama dalam upaya memerangi kasus paparan DBD di Indonesia.

“Sebagai bagian dari upaya aktif memerangi dengue di Indonesia, Bio Farma terus mendorong perluasan aksesVaksin Dengue, tidak hanya bagi masyarakat umum, tetapijuga kepada berbagai perangkat negara, termasuk BUMN, BUMD, TNI/Polri, ASN, hingga Pemerintah Daerah. Kami juga berkomitmen untuk membangun kemitraan yang kuat dan berkelanjutan dengan berbagai pihak guna memperkuat ketahanan sistem kesehatan nasional.

Edukasi yang konsisten kepada para pemangku kepentingan merupakan kunci, karena dengue adalah tantangan kesehatan yang nyata dan terus mengintai. Dengan kolaborasi lintas sektor, kami optimistis Indonesia dapat mengambil langkah lebih maju dalam mencegah dan mengendalikan penyakit menular seperti dengue.” jelas Teki.

Andreas Gutknecht, Presiden Direktur Takeda Innovative Medicines, menyampaikan apresiasinya terhadap komitmenPemerintah dan Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa Utara dalam menanggulangi dengue.

Kami menyadari bahwa pengendalian dengue merupakanproses panjang yang membutuhkan komitmen tinggi dariseluruh pemangku kepentingan untuk secara konsistenmelaksanakan berbagai solusi pencegahan. Oleh karena itu, kami memberikan dukungan kepada setiap upaya yang dilakukan pemangku kepentingan di Indonesia dalammengendalikan dengue. Takeda telah berkontribusi terhadappeningkatan kesehatan di Indonesia selama lebih dari 50 tahun, dan kami berkomitmen untuk terus menjadi mitrajangka panjang para pemangku kepentingan di Indonesia. Dalam hal ini, dalam perlawan terhadap dengue, dan mencapai tujuan bersama Nol Kematian Akibat Dengue pada tahun 2030.” ungkap Gutknecht.

Sebagai salah satu wilayah endemik dengue, Kabupaten Minahasa Utara mengalami peningkatan kasus dengue dalam tiga tahun terakhir.

Pada 2022 terdapat 116 kasus dengan 1 kematian, meningkat menjadi 404 kasus dengan 3 kematian pada 2023 dan meningkat lagi menjadi 800 kasus dengan 4 kematian pada 2024, dengan tingkat kejadian (Incidence Rate/IR) DBD di kabupaten ini pun selalu di atas target nasional, yaitu 10/100.000 penduduk.

Posisi kabupaten yang terletak di antara dua kota besar yaitu Manado dan Bitung, menyebabkan mobilitas penduduk Minahasa Utara sangat tinggi, sehingga meningkatkan potensi sebagai sumber penularan virus dengue. Faktor lain yang meningkatkan potensi penularan DBD adalah tingkat kepadatan pendudukyang tinggi mengakibatkan pembangunan perumahan secaramasif.

Fokus utama dari kegiatan ini adalah peningkatan kesadaran dan pencegahan penyakit, yaitu kanker serviks dan dengue. Ini sejalan langsung dengan komitmen Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat sistem kesehatan preventif , meningkatkan edukasi kesehatan, serta memperluas cakupan layanan kesehatan yang merata dan berkualitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *